Pages

"I believe in pink. I believe that laughing is the best calorie burner. I believe in kissing, kissing a lot. I believe in being strong when everything seems to be going wrong. I believe that happy girls are the prettiest girls. I believe that tomorrow is another day and I believe in miracles."
— Audrey Hepburn

Saturday, 5 October 2013

Faith, so what?

Menjadi bagian dari kelompok minoritas di Indonesia, saya sudah biasa mendengar adanya diskriminasi dari pihak mayoritas. Baik perbedaan dalam tindakan, prioritas dalam pilihan, terkadang pengucilan, dan lainnya. Memang (syukurnya) saya tidak pernah merasakan diskriminasi secara langsung dari orang sekitar, atau mungkin saya berpikir terlalu positif sehingga tidak menyadari diskriminasi tersebut. Namun, saya sering kali punya empati yang besar kepada individu dari kelompok yang sama dengan saya yang menerima diskriminasi.

---

Kepercayaan. Iman. Agama.

Saya percaya ini bukan hal main-main. Hal sakral. Perihal Dia dan individu, masing-masing, tanpa campur tangan orang lain. Memahami dan menjalankan arahNya melalui pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Tahapan selanjutnya mengimplementasikan ajaranNya kepada orang di sekitar kita. Prioritas bukan kepada kelompok tertentu, semua sama, pukul rata. Selain itu tidak ada ajaran yang menyesatkan, semua pasti mengajarkan kebaikan.

---

Hari ini saya dihadapkan pertanyaan bersifat diskriminasi dan kepercayaan kelompok minoritas. Namun kali ini saya duduk sebagai si mayoritas (ingat, saya sudah bertahun-tahun berperan sebagai si minoritas). 
Saya memang tidak paham 100% mengenai kepercayaan tersebut. Namun berbekal keyakinan bahwa kepercayaan adalah hal individual dan tidak mungkin mengajarkan kesesatan, saya lantas membela dan memberi jawaban dari sisi positifnya saja. Perasaan saya antara geram dan kesal. Lucu memang, bukan saya yang mengalami diskriminasi, namun saya tidak senang si minoritas mengalami diskriminasi.

---

Mulut digunakan untuk berbicara. Otak digunakan untuk berpikir. Nurani digunakan memahami nilai kemanusiaan. 

Akan sangat bijak jika ketiganya dapat digunakan bersamaan.

Thursday, 19 September 2013

Two Weeks at Ghent, Belgium

Bukan. Ini bukan menceritakan kisah gw selama dua minggu lebih ini di Belgi, Ghent. Sekalipun gw memang sudah disini selama dua minggu, berpisah dengan keluarga dan teman-teman di Indo, gw merasa momen-momen gw disini menarik hati gw dan membuat gw ingin mendapat lebih dan lebih lagi. Mengapa gw berkata demikian?

1. Kesempatan untuk hidup dalam jangka waktu yang lama di luar negeri (Eropa bahkan) tidak bisa gw sia-siakan begitu saja. Berbagai budaya dan kebiasaan lokal yang baru dan berbeda dengan di Indonesia sudah pasti membuka pikiran gw. Yah, memang tidak semuanya bagus dan dengan mentah-mentah diserap begitu saja oleh otak gw. Namun dengan memfilter antara yang baik dan buruk sudah jelas gw mendapatkan pelajaran baru dan baiknya sih turut merubah gw menjadi lebih baik.

2. Selain kehidupan lokal, sosialisasi dengan student dari multikultural itu mengagumkan loh. Gw merasa berada di satu melting pot bersama dengan orang berbagai negara. Mulai dari India, Jepang, Jerman, Peru, Zimbabwe, oh my.. Just name the country, and you will find it easy to find the person here. Semua membawa karakter khusus dari negaranya masing-masing, ilmu terutama studi kasus negaranya, kulturnya. Melalui itu, gw bisa melihat hal-hal positif dari mereka, dan syukur-syukur selain bisa mengimprove diri sendiri, gw juga bisa memberikan pengaruh positif kepada mereka melalui kultur Indonesia gw.

3. Ilmu melalui perkuliahan. Well, terdengar membosankan ya? Namun jujur, gw cukup ga sabar mendapatkan ilmu yang lebih dalam terkait rural economics and management sebagai pondasi untuk profesional karir gw kedepannya. Sejak gw sudah memastikan diri gw untuk bergerak di bidang ini, dan ini merupakan tujuan utama gw berada di Ghent, oleh sebab itu gw ingin mengeksplor teori serta terapan bidang ini. Honestly, I am still bad at economics, and I have to learn harder for this. Welcome back to study era then, Liz!

I am looking forward to what I can do for next 22 months. See you later!

*pardon my english and indonesian.

Monday, 1 July 2013

Erasmus Mundus Lotus Project Scholarship – Benda Apakah Ini?

pic from here

Saya yakin 100% scholarship hunter tahu skema beasiswa Erasmus Mundus. Beasiswa dari Uni Eropa yang mewajibkan awardeenya untuk berkuliah di beberapa kampus di beberapa negara sekaligus dalam meraih gelar S2 (sejak tahun terakhir sudah ada untuk S3). Eits, tidak semua Erasmus Mundus seperti itu loh. Metode yang tadi saya sebutkan identik dengan Action 1. Nah, kalau Lotus Project? Itu merupakan salah satu dari project EM Action 2. Nah loh, apa lagi itu Action 2?

Saya buat beberapa poin penting yang membedakan Action 1 dan Action 2 di Erasmus Mundus:

Action 1
Action 2
Applicant mendaftar langsung di program yang dituju tanpa memilih kampus.
Applicant mendaftar di kampus yang ada dalam kerangka kerjasama dan memilih jurusan yang tersedia.
Persaingan mendapatkan beasiswa tidak hanya se-Indonesia, namun global mendunia.
Sejak awal, applicant mendeskripsikan dirinya masuk Target Group 1, 2, atau 3. Persaingan applicant ada di level Target Group yang sama di negara yang sama.
Awardee akan berkuliah di beberapa kampus untuk menyelesaikan program master.
Awardee akan berkuliah di satu kampus yang telah dipilih sejak awal.
Pembagian program berdasarkan jurusan tertentu
Pembagian project berdasarkan kampus kerjasama,
Program untuk master degree atau doctorate degree.
Project untuk student exchange, staff exchange, master degree.

Tujuan umum EM Action 2 lebih ke arah meningkatkan hubungan kerjasama antara Uni Eropa dengan kampus-kampus tertentu di Indonesia. Oleh sebab itu di Action 2 terdapat beberapa project yang lebih diprioritaskan untuk kampus tertentu juga. Misalkan PANACEA untuk UGM, EXPERTS, dan LOTUS untuk ITB dan UGM. Selain itu, project yang ada ditujukan untuk beragam aktivitas, seperti student exchange selama 6 bulan, staff exchange 1 bulan, maupun master degree.

Bisa dibayangkan kan proses seleksi dan persaingan yang akan dihadapi oleh scholarship hunter? Jelas lingkup persaingannya relatif lebih sempit, karena menurut saya lawan-lawan yang akan dihadapi adalah teman-teman sealmamater saja (atau dengan satu atau dua kampus tetangga). Jadi, jika kamu adalah mahasiswa yang ingin mengambil kesempatan student exchange atau lulusan dari kampus yang masuk dalam prioritas project di Action 2, saya sarankan bener-bener fokus untuk apply beasiswa ini. Kalian tinggal isi form aplikasi secara online dan upload dokumen yang dibutuhkan (seperti pada umumnya). Give your best, and let God do the rest. :)